Putusan MK Soal Usia dan Pengalaman jadi Kepala Daerah Final Mengikat, Kata Mahfud MD

Senin, 16 Oktober 2023 – 17:33 WIB

Surabaya – Menkopolhukam, Mahfud MD, mengatakan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait usia capres-cawapres dan berpengalaman menjadi kepala daerah, final dan mengikat. Karena itu, siapa pun harus menaati putusan tersebut dalam pelaksanaan Pilpres 2024.

Baca Juga :

MK Tolak Gugatan Batas Usia Capres-Cawapres 21 Tahun dan 25 Tahun

Seperti diketahui, MK mengabulkan sebagian gugatan terkait batasan usia minimal capres-cawapres yang diajukan oleh mahasiswa UNS. Dalam putusannya, MK memutuskan bahwa usia capres-cawapres minimal 40 tahun dan atau pernah menjadi kepala daerah.

Putusan MK tersebut membuka peluang bagi Gibran Rakabuming Raka, untuk maju di Pilpres 2024. Isu mutakhir, putra dari Presiden Joko Widodo itu tengah digadang-gadang untuk maju sebagai bakal cawapres. Apakah dari Koalisi Indonesia Maju yang mengusung Prabowo Subianto dan atau mendampingi Ganjar Pranowo.

Baca Juga :

KPU Sebut Baru Anies-Muhaimin yang Kirim Surat Pemberitahuan Daftar Capres-Cawapres

Tegas Mahfud, apapun yang diputuskan oleh MK bersifat mengikat. Sehingga semua pihak harus bersiap dengan apapun keputusan yang diambil oleh Hakim Mahkamah.

“Kita harus siap dengan apapun keputusan Mahkamah Konstitusi tersebut,” katanya usai menyampaikan kuliah umum di Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur, pada Senin, 16 Oktober 2023.

Baca Juga :

Ditanya Kans Duet Prabowo-Gibran, Anies Bilang "Kita Siap Tanpa Tanya Siapa Kompetitor"

Putusan MK terhadap judicial review yang diajukan mahasiswa UNS itu, berkebalikan dengan yang diajukan PSI dan beberapa pihak lainnya, termasuk oleh Wagub Jatim Emil Dardak. Dalam putusannya, MK menolak permohonan para pemohon seluruhnya.

Dalam permohonannya, PSI memohon batas usia capres dan cawapres menjadi 35 tahun, sebagaimana yang pernah diatur dalam Pasal 5 huruf (o) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 dan Pasal 6 huruf (q) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.

Baca Juga  Ketagihan Open Donasi, Denise Chariesta Siap-siap 'Ngemis' Lagi buat Beli Rumah?

Majelis Hakim MK menilai, permohonan yang diajukan oleh PSI tersebut tidak beralasan menurut hukum untuk seluruhnya. Menurut mahkamah, Pasal 169 huruf (q) UU Pemilu tidak melanggar hak atas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan.

Halaman Selanjutnya

Majelis Hakim MK menilai, permohonan yang diajukan oleh PSI tersebut tidak beralasan menurut hukum untuk seluruhnya. Menurut mahkamah, Pasal 169 huruf (q) UU Pemilu tidak melanggar hak atas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *